SUARA HATI PERAWAT YANG BERTUGAS DI RUANG ISOLASI COVID

 

Apakah saya siap bertugas diruang Isolasi Covid? Apakah saya yakin untuk bertugas diruang tersebut? Bagaimana dengan anak-anak dan keluarga dirumah? Apakah saya perlu sewa kos atau tinggal di asrama perawat?  Atau saya perlu menyiapkan kamar khusus dirumah untuk saya tidur dan beraktifitas? Bagaimana jika saya tertular penyakit ini?

Diatas adalah beberapa pertanyaan saya sebagai perawat yang ditugaskan diruang rawat Isolasi Covid. Namun pertanyaan - pertanyaan tersebut ternyata juga muncul pada beberapa teman perawat lainnya yang mendapat tugas yang sama di ruang Isolasi. Bahkan ada juga diantara mereka yang ragu untuk bertugas diruang Isolasi dan berniat mengundurkan diri. Namun, banyak juga diantara kami yang tetap bertahan untuk tetap bertugas diruangan Isolasi. Kami saling memberikan dukungan dan memberikan semangat agar tetap bertahan. Kamipun saling mengingatkan untuk tetap menjalankan protokol kesehatan dimanapun berada. Disetiap breafing ataupun di Whatsapp group, selalu diingatkan agar kami selalu “Keep Happy, Keep Safety and Keep Healthy”. Kami wajib menjaga stamina tubuh kami serta daya tahan tubuh kami agar tidak mudah tertular. Dengan jiwa yang sehat dan bahagia, kami yakin tubuh kamipun akan sehat. Sehingga, jika ada salah satu dari kami tampak cemas, kami akan saling mengingatkan untuk tetap relaks, dan tetap bahagia. No Stress!!

Untuk menjaga mood kami, saat bertugas kami menyalakan musik yang dapat merelaksasikan ataupun melakukan olahraga sebelum beraktifitas, seperti senam aerobik ataupun yoga. Selain berdoa tentunya agar kami selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Untuk menjaga stamina fisik, Rumah Sakit kami memberikan makan untuk petugas disetiap shiftnya ditambah snack tambahan selain juga vitamin yang diberikan sesuai dengan kebutuhan. Kamipun diberikan cukup Alat pelindung Diri (APD). Sehingga kami tidak merasakan khawatir terkait paparan. Untuk Sabun cuci tangan yang disediakan oleh pihak manajemen juga sesuai standard termasuk juga Handrubnya.

Dengan adanya fasilitas tersebut, banyak petugas yang coba untuk bertahan. Dan tetap bersedia untuk bertugas diruang Isolasi. Karena mereka merasa diperhatikan oleh pihak manajemen dari segi keselamatan dan kenyamanannya. Namun kondisi tersebut juga tidak menghilangkan kendala yang kami hadapi saat bertugas. Kendala yang dihadapi tidak hanya dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien namun juga dalam menghadapi keluarga. Selama 3 bulan saya bertugas di ruang Isolasi yaitu sejak April - Juni 2020, Saya menghadapi 4 kelompok petugas (perawat dan pramuhusada) yang memiliki perbedaan karakter dan juga cara bekerja. Termasuk bagaimana mengatasi setiap kendala yang dihadapi. Ada yang menghadapi dengan tenang, ada juga yang terkadang terbawa oleh suasana. Namun, karena kami bekerja tim yang anggotanya beragam, rata-rata semua kendala dapat dihadapi dan terselesaikan.

Kendala-kendala yang dihadapi bisa berasal dari pasien dan bisa juga dari keluarga. Yang berasal dari pasien seperti tidak bersedia dirawat, tidak betah dirawat, sampai ada yang ingin ditemani oleh keluarga. Jika pasien tersebut diruang rawat biasa, hal-hal tersebut tidak akan menjadi kendala karena dapat dengan mudah diatasi. Namun karena ini ruang Isolasi, perlu keahlian komunikasi perawat agar pasien dapat mengerti kondisinya. Sehingga pasien dapat mengerti dan akhirnya menyetujui. Untuk kendala pasien yang ingin ditemani oleh keluarga, biasanya kami komunikasikan hal tersebut agar keluarga dapat bekerjasama dengan kami. Biasanya kami akan meminta keluarga untuk selalu menghubungi pasien baik dengan melakukan video call via handphone ataupun berbicara melalui CCTV dan interkom yang ada di rumah sakit. Sama halnya dengan pasien yang tidak betah dirawat, perawat harus mampu mengkaji kebutuhan pasien. Apakah tidak betah karena takut, bosan atau mungkin ada yang diinginkan. Jika karena takut, biasanya kita edukasi ulang, bahwa perawat akan selalu memantau  dari CCTV, sehingga kami harapkan pasien tidak merasa sendiri. Kami juga sampaikan, jika membutuhkan kami pasien dapat menekan bel. Kami juga menjelaskan bahwa kami tidak bisa setiap saat menemani karena harus menjaga jarak dan mengurangi paparan. Untuk masuk keruangan pasien, kami harus memakai Alat Pelindung Diri level 3 yang terdiri dari cover all set (Hazmat lengkap, Face shield lengkap sampai penutup kaki). Jika dengan penjelasan kami pasien masih gelisah dan tetap ingin keluar ruangan, kami akan sampaikan ke dokter untuk minta persetujuan konsul ke psikolog. Kondisi seperti itu biasanya muncul pada pasien yang jarang dikunjungi oleh keluarga sehingga kurang mendapatkan dukungan moril.

Untuk kendala yang berasal dari keluarga, perawat biasanya menghadapi keluarga yang masih menolak hasil bahwa keluarganya positif Covid. Mereka berdalih bahwa keluarganya hanya sakit infeksi paru biasa dan bukan Covid. Keluarga juga ada yang tidak mau mematuhi waktu berkunjung, dengan alasan mereka ingin memberikan support dan dukungan kekeluarganya didalam dan tidak tega meninggalkannya sendiri. Padahal, perawatpun harus membatasi jarak dengan keluarga karena mereka juga termasuk Orang Tanpa Gejala. Tetapi setelah dilakukan reedukasi ada diantara mereka yang setuju ada yang tidak. Solusi bagi keluarga yang tidak setuju, diberikan waktu untuk berkunjung dan dilarang masuk jika tidak menjalankan protokol kesehatan dan kami lakukan pembersihan surface area disetiap alat yang dipegang keluarga tersebut seperti intercom ataupun telpon. Kendala yang paling berat adalah saat dihadapkan pada keluarga yang menolak keluarganya dimakamkan dengan menggunakan protokol Covid. Disatu sisi perawat ingin menjalankan SPO pemulasaran Jenazah covid, namun disisi lain dihadapkan keluarga yang menolak pelaksanaan SPO tersebut. Pernah anggota tim saya sampai dimaki-maki dan ditunjuk-tunjuk oleh pihak keluarga karena dianggap tidak memiliki hati karena tidak mengizinkan mereka untuk masuk kamar pasien saat proses dying. Sebenarnya, bukannya kami tidak mengizinkan masuk sama sekali, tetapi yang boleh masuk hanya satu perwakilan keluarga dan yang lain melihat dari kamera CCTV. Pada proses pembungkusan jenazahpun sama. Ini kami lakukan sesuai SPO yang berlaku dirumah sakit kami. Pernah juga keluarga menolak jenazah keluarganya dimakamkan di tempat pemakaman yang sudah ditentukan. Mereka bahkan sudah membawa ambulance untuk membawa jenazah keluarganya tersebut ke kampung halaman Namun, peraturan tetap peraturan. Pihak manajemen bahkan sampai memanggil pihak kepolisian agar kamipun pegawai yang sedang bertugas terlindungi. Pada akhirnya, setelah keluarga mendapatkan penjelasan dari pihak Rumah Sakit terkait alasan pemakaman di tempat yang sudah ditentukan, keluarga dapat menerima walaupun dengan berat hati.  Pernah juga kami mendapat ancaman dari keluarga yang jenazah keluarganya dimakamkan dengan menggunakan protocol covid, namun setelah beberapa hari pemakaman keluar hasil swab PCR negative. Perlu diketahui bahwa Pasien yang masuk ruang Isolasi di Rumah Sakit kami adalah yang hasil pemeriksaan rapid testnya Reaktif dan hasil pemeriksaan Swab PCR positif. Sehingga terkadang,hasil rapid Reaktif namun hasil PCR negative. Ini juga merupakan salah satu kendala dimana ada jeda waktu untuk mendapatkan hasil pemeriksaan.

Dari beberapa kendala yang dihadapi tersebut, kami sebagai perawat tetap terus berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada pasien-pasien kami. Kami mendapatkan kesempatan bertugas diruang isolasi selama satu bulan dan selalu berganti. Pergantian ini bertujuan agar kami tidak terus-terusan terpapar dan tetap terjaga stamina dan kesehatan kami. Satu kebahagiaan kami adalah, merasa senang jika ada pasien yang masuk ruang isolasi dapat pulang dengan tersenyum.

Di masa sekarang, dengan jumlah yang terkonfirmasi positif terus bertambah. Sebagai perawat, kami harus terus berusaha menjaga diri agar tetap sehat. Karena kami harus menjadi pertahanan terakhir dalam memberikan pelayanan kesehatan untuk pasien-pasien kami tercinta.

 

     Agustus, 2020

Vera Sulistyaningrum

 


Noted:

Tulisan ini juga dapat dibaca di Buku Puan Menulis Pandemi

Buku ini berisi berbagai cerita mulai dari para Puan penyintas , para Puan pelaku di garda terdepan, masyarakat yang peduli terhadap pandemi ini sampai para Puan yang duduk di Pemerintahan.

Cerita dibuku ini dikemas dengan apik oleh para Puan yang menjadi Editor buku ini dan dicetak dan dikemas dengan cantik oleh para Puan

Tuk yang minat untuk memesan buku ini dapat mengisi link pemesanan berikut: https://s.id/Bukan_Sekedar_Angka

Atau dapat menghubungi Yayasan PEKKA 

CP: Yana, 081283652099



Komentar